26 Maret 2011

Hujan Kuning Landa Jepang

Share

Pekerja medis berpakaian baju antiradiasi usai menyambut kedatangan dua pekerja PLTN yang terkena radiasi nuklir, Kamis (24/3). Foto: ap/yomiuri shimbun


Hujan kuning melanda wilayah Kanto dekat Tokyo, Jepang. Namun Badan Meteorologi Jepang, Kamis (24/3), meminta warga tak usah panik, karena warna kuning bukan berasal dari bahan radiokatif seperti yang dikhawatirkan, tapi serbuk sari.

Badan Meteorologi Jepang menerima ratusan aduan, Rabu (23/3) pagi, mengenai residu kekuningan yang terdapat di atap rumah warga setelah hujan. Warga khawatir warna kekuningan ditimbulkan dari efek radiasi yang berasal dari pembangkit listrik nuklir yang rusak yang berjarak 220 kilometer di sebelah timur utara Tokyo.

Menurut Kementerian Lingkungan hidup, serbuk sari dalam jumlah banyak terlihat di udara di wilayah Kanto. Serbuk itu jatuh bersamaan dengan hujan. Namun Dinas Keseha*tan Kota Metropolitan Tokyo menyatakan, ada kemungkinan hujan mengandung bahan radioaktif tetapi dalam tingkat yang tidak membahayakan kesehatan manusia.

Jepang saat ini darurat nuklir setelah pembangkit listrik tenaga nuklirnya (PLTN) di Fukushima rusak akibat gempa 9 skala Richter yang disusul tsunami, 11 Maret lalu. Seluruh penduduk dalam radius 20 kilometer dari PLTN Fukushima dievakuasi. Berbagai produk di wilayah tersebut, seperti susu dan sayuran terpapar radiasi.

Dampak radiasi akibat terbakarnya PLTN Fukushima juga makin meluas. Yodium radio*aktif di perairan dekat PLTN Daiichi Fukushima terdeteksi pada tingkat 147 kali lebih tinggi dari batas aman. Pemerintah Jepang kemarin mengumumkan air ledeng di Tokyo telah mencapai level yang mengkhawatirkan. “Kami mengimbau agar air ledeng tidak diminum oleh anak, juga untuk membuat susu bayi di bawah 1 tahun,” kata Gubernur Tokyo, Shintaro Ishihara.

Mobil dengan pengeras suara berkeliling jalan-jalan ibu kota, memperingatkan bahaya radioaktif. Supermarket dengan cepat mengosongkan air kemasan di banyak bagian kota. Orangtua juga diperintahkan untuk memastikan susu tidak berasal dari sapi di distrik Fukushima.

Warga Tokyo mengatakan, mereka mengkhawatirkan soal radiasi. “Jika mereka mengatakan itu berbahaya bagi anak-anak karena tubuh mereka lebih kecil dan yodium berbahaya dapat terakumulasi dalam kelenjar tiroid mereka, kita dapat memahami itu,” kata pekerja department store Yasuke Harade (29).

“Tapi bisakah kita benar-benar percaya ketika mereka mengatakan bahwa air ini aman bagi orang dewasa? Dapatkah kita memasak nasi di air keran, bisakah kita minum teh, kopi? Mereka mengatakan bahwa kita bisa, tapi apakah benar? “

Sementara itu ketangguhan warga Jepang dalam mengatasi bencana memang luar biasa. Gempa berkekuatan 9 skala Richter, 11 Maret lalu, telah meluluhlantakkan sebuah ruas jalan raya di Jepang. Hebatnya, rekonstruksi dalam enam hari telah membuat jalan itu mulus kembali. Pekerjaan perbaikan jalan itu dimulai tanggal 17 Maret dan enam hari kemudian ruas di Jalan Raya Kanto, Naka, itu telah mulus kembali seperti baru. Jalan itu siap untuk dibuka kembali kemarin malam.



Artikel Terkait: